Sabtu, 04 Februari 2012

Kendala Sukses IPA Terpadu


Banyak yang beranggapan bahwa guru IPA terpadu SMP/MTs bisa diampu oleh guru bidang studi biologi, fisika atau kimia. Ternyata anggapan ini tidak sepenuhnya benar, karena pada hakikatnya Sains tidak sama dengan biologi, fisika atau kimia. 

Materi  pembelajaran sains di SMP/MTs terdiri atas empat bidang kajian, yaitu (a) makhluk hidup dan proses kehidupan, (b)  materi dan sifatnya, (c) energi dan perubahan­nya, , serta (d) bumi antariksa. Keempat bidang kajian tersebut merupakan suatu keutuhan pengetahuan yang  wajib dilihat sebagai suatu bangunan pengetahuan (body of knowledge), diajarkan oleh guru dan dikuasai oleh peserta didik juga sebagai suatu kesatuan. Atas dasar hal ini keempat bidang kajian tersebut merupakan suatu bangunan pengetahuan terpadu, terpadu dalam kompetensi dan terpadu dalam materi.

Pada dasarnya pembelajaran IPA terpadu bukanlah hal yang baru, karena sebagian dari guru-guru IPA telah menerapkan pembelajaran tersebut walau tidak menyadarinya, misalnya mengaitkan satu konsep dalam biologi dengan konsep lain yang relevan dalam fisika atau kimia dan sebaliknya. Akan tetapi, secara umum guru IPA belum memahami atau melaksanakan pembelajaran tersebut secara benar dan sistematis. Karena itu, wajar bila pembelajaran IPA terpadu dianggap sebagai model pembelajaran yang baru bagi guru-guru IPA. Apalagi sebagian besar guru IPA di SMP/MTs memiliki latar belakang keilmuan yang spesifik, misalnya pendidikan fisika, kimia, atau biologi yang menyebabkan guru kesulitan dalam mengaitkan dengan benar antar bidang kajian IPA, belum lagi dengan model perangkat pembelajaran yang tidak sama dengan perangkat pembelajaran pada umumnya karena pada perangkat pembelajaran IPA Terpadu kita harus pandai dan cermat dalam mengaitkan antar kompetensi dasar yang satu dengan yang lain sehingga menjadi suatu kajian pembelajaran yang saling terkait. Hal ini membuat kebanyakan guru mengambil langkah “aman” dengan mengajarkan IPA sesuai dengan apa yang dia bisa. Padahal jika guru mengetahui beberapa tipe pembelajaran yang dianjurkan dalam membelajarkan IPA Terpadu (Connected, integrated dan webbed) maka pembelajaran IPA Terpadu akan lebih mudah dalam pelaksanaannya. Melihat dari permasalahan tersebut, tidak ada cara lain untuk menerapkan pembelajaran IPA Terpadu selain dengan memberikan pelatihan kepada guru IPA tentang bagaimana cara-cara tepat dan efektif dalam melaksanakan pembelajaran IPA Terpadu, itupun jika benar bahwa pembelajaran IPA Terpadu ingin terlaksana.

Pembelajaran IPA terpadu membawa konsekuensi bahwa setiap  per­ma­salahan IPA ditinjau dari dua atau lebih bidang kajian dan menuntut pembahasan secara simultan dari dua atau lebih bidang kajian tersebut. Oleh karena itu, menjadi tuntutan yang rasional bila dalam pelaksanaan pembelajaran IPA terpadu melibatkan lebih dari satu guru dalam setiap pembelajarannya. Tentunya, secara terencana harus ada kejelasan tugas setiap anggota tim. Dengan demikian, kehadiran seorang anggota tim bukan sekedar pelengkap untuk keterlaksanaan suatu pembelajaran.

Menurut Subali, dkk (2009) Pembelajaran IPA terpadu dapat dilakukan oleh satu guru (guru tunggal) maupun secara team teaching. Hal ini bergantung pada ketersediaan dan kemampuan guru yang ada di sekolah. Pertama, Pembelajaran IPA terpadu oleh satu guru merupakan kondisi yang ideal, tetapi untuk dapat melakukannya guru harus memiliki kemampuan yang memadai dalam semua bidang kajian IPA dan jumlah siswanya sedikit. Beberapa keuntungan bila pembelajaran IPA terpadu diampu oleh satu guru adalah  guru dapat merencanakan dan melaksanakan pembelajaran tanpa bergantung pada guru yang lain dan guru dapat mengurangi berbagai permasalahan teknis, misalnya jadwal pelajaran (disesuaikan dnegan jadwal guru yang bersangkutan).  Kelemahan atau hambatan untuk menerapkannya, antara lain pertama, guru (khususnya guru senior) sudah terlanjur terbiasa mengajarkan IPA secara parsial sesuai latar belakang keilmuannya, sehingga cenderung kesulitan ketika harus mengaitkan atau melakukan penggabungan berbagai bidang kajian IPA. Kedua,  rendahnya motivasi dan kreativitas guru dalam mencari sumber-sumber informasi dan memadu­kan bidang-bidang kajian untuk pembelajaran. Ketiga, belum adanya upaya sistematik dari pihak yang berwenang untuk mengembangkan kemampuan guru di lapangan dalam melaksanakan pembelajaran IPA terpadu. dan Keempat, minimnya bahan pustaka yang dapat digunakan sebagai acuan oleh guru IPA dalam merencanakan dan mengem­bang­kan pembelajaran IPA terpadu. Oleh karena itu, untuk kondisi saat ini kemungkinan melakukan pembelajaran IPA terpadu oleh satu guru atau guru tunggal cenderung sulit dilakukan. 

Kedua, Pembelajaran IPA terpadu secara team teaching dilakukan dengan mempertimbangkan aspek bidang kajian yang dipadukan, jumlah siswa, dan sistem penilaiannya. Oleh karena itu, pembelajaran secara team teaching bukan berarti apabila seorang guru melaksanakan kegiatan pembelajaran, guru yang lain sesama tim tidak perlu hadir di kelas. Dalam team teaching semua guru yang termasuk anggota tim wajib terlibat secara aktif dalam menyiapkan perangkat pembelajaran (silabus, RPP, media, sumber belajar, dan instrumen penilaian) dan melaksa­nakan kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, setiap anggota tim harus jelas perannya, misalnya guru pertama memandu pembelajaran, guru kedua melaksanakan penilaian. Banyak keuntungan yang diperoleh dari pemberlakuan team teaching, terutama dalam mengatasi sejumlah hambatan yang ditemui dalam pembe­la­jaran IPA terpadu dengan guru tunggal. Karena itu, untuk kondisi saat ini, pembelajaran IPA terpadu secara team teaching lebih berpeluang dibanding­kan dengan guru tunggal. 

Akan tetapi kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa guru SMP/MTs dengan sadar dan dengan sengaja membagi tugas mengajar mereka sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka punya, misalnya guru biologi maka dia mengajar hanya pada materi biologi saja, demikian pula sebaliknya. Hal ini memang tidak bisa disalahkan karena mereka memang ahli dalam hal itu, tetapi jika ini tetap berlanjut maka akan sia-sialah yang dicanangkan IPA terpadu, karena tidak akan tercapai apa yang dinamakan keterpaduan itu. Yang patut disadari dan dipahami oleh guru IPA SMP/MTs bahwa pembelajaran IPA terpadu tidaklah sama dengan biologi, fisika atau IPA sehingga perlu kerja ekstra agar pembelajaran IPA terpadu ini terlaksana, karena mau tidak mau inilah tuntutan bagi guru IPA SMP/MTs. 

Muhammad Syamsuri, S.Pd
Guru SMPN 4 Kintap

Tidak ada komentar: