Sabtu, 04 Februari 2012

New Taxonomy of Sciense Education


Sains dan teknologi saat ini berkembang dengan sedemikian pesatnya tetapi disayangkan perkembangan itu tidak diiringi dengan keinsyafan akan hakikat sains dan teknologi itu sendiri. Manusia terbuai oleh kecanggihan sains dan teknologi tanpa menyadari bahwa dia kehilangan sesuatu yang sangat essensi dalam pengembangan sains dan teknologi tersebut, yaitu moral dan tanggung jawab. Begitu banyak bukti yang menunjukkan bahwa perkembangan sains dan teknologi saat ini tidak dilandasi moral dan tanggung jawab. Sisi positif memang nampak tetapi sisi negatif yang muncul tidak kalah banyaknya. Di Amerika, timbul suatu keprihatinan nasional terhadap cara pengajaran sains, dimana siswa sama sekali tidak menghargai guru, siswa hanya berorientasi pada ilmu tanpa memperhatikan moral dalam mempelajari ilmu. Demikian juga dengan guru, tidak ada tanggung jawab moral terhadap ilmu yang diajarkan dan perkembangan siswanya, asalkan pembelajaran telah disampaikan dan siswa paham maka apapun yang dilakukan siswa selama pembelajaran dianggap sah dan boleh dilakukan. 

Bertolak dari hal tersebut McCormack dan Yager (1989) mengembangkan “New Taxonomy of Science Education” yang memperluas pandangan tentang pendidikan Sains di luar dua domain isi dan proses menjadi lima domain yang bisa dianggap penting untuk setiap kurikulum Sains yang baik. Domain pertama mengetahui dan memahami (Domain pengetahuan), Sains bertujuan untuk mengkatagorikan apa yang terlihat di alam kedalam bagian pengelolaan dengan tujuan untuk belajar, dan untuk mendeskripsikan hubungan antara gejala fisik dan biologi. Pengajaran Sains juga harus selalu melibatkan siswa dan  mengembangkan informasi melalui sudut pandang Sains. Siswa harus dikembangkan sikap kritisnya, apa yang terjadi dikehidupan sehari-hari harus mampu dijelaskan secara ilmiah, dengan tujuan agar siswa tidak termakan oleh mitos-mitos tetapi mampu membuktikan apa yang dianggap mitos itu sesuatu yang benar atau sesuatu yang salah. Jangan sampai siswa nantinya mengangap sesuatu benar hanya dari “katanya” tanpa mengetahui kebenaran sesungguhnya.

Domain kedua Domain Menjelajah dan Menemukan (Proses dari domain ilmu), Penggunaan proses ilmu pengetahuan untuk mempelajari bagaimana para ilmuwan berpikir dan bekerja (Kerja ilmiah). Prosedur penelitian ini sangat penting mengingat untuk memudahkan kita dalam melakukan penelitian dan tervalidasinya penelitian yang kita lakukan.

Domain ketiga Domain Membayangkan dan Membuat (Domain kreativitas), Sebagian besar program ilmu memandang program Sains sebagai sesuatu yang harus dilakukan oleh siswa untuk membantu mereka belajar mendapatkan informasi tertentu. Sedikit sekali perhatian formal yang diberikan dalam program ilmu pengetahuan untuk pengembangan imajinasi siswa dan berpikir kreatif. Banyak penelitian dan pengembangan telah dilakukan pada pengembangan kemampuan siswa dalam domain kreatif, tapi sedikit dari hal tersebut yang telah sengaja dimasukkan ke dalam program ilmu pengetahuan sehingga hanya menjadi “khayalan tingkat tinggi” dengan implementasi tingkat rendah.

Domain keempat Domain Merasa and Menilai (Domain sikap), Di zaman lembaga-lembaga sosial dan politik yang semakin kompleks, masalah lingkungan dan energi, dan kekhawatiran umum tentang masa depan, perhatian terhadap imajinasi tidak cukup untuk dijadikan parameter untuk program ilmu pengetahuan. Perasaan manusia, nilai-nilai, dan keterampilan pengambilan keputusan perlu dikembangkan. Siswa bekerja pada dilema yang terjadi secara nyata di kehidupan sehari-hari, bekerja dengan kelompok diskusi kooperatif, mengingat pro dan kontra serta etika dalam diskusi. Misal bagaimana siswa menyikapi keadaan anak-anak lain seumur yang tidak sekolah dan mengalami cacat mental maupum fisik. Dengan demikian, mereka menyadari beberapa sikap pribadi mereka dan teman sekelasnya yang diharapkan dengan hal ini akan menumbuhkan simpati dan empati di hati siswa sehingga sifat solidaritas dan sosialis dapat terkembangkan.

Domain kelima Domain Menggunakan dan Menerapkan (Domain Aplikasi dan Koneksi), Tidak ada gunanya jika memiliki program ilmu tetapi program ini tidak menyertakan sejumlah besar informasi, keterampilan, dan sikap yang dapat ditransfer dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari siswa. Siswa perlu peka terhadap pengalaman-pengalaman yang mereka hadapi yang mencerminkan ide-ide yang telah dipelajari dalam ilmu sekolah. Misal siswa mengumpulkan alat-alat di rumah yang sudah tidak terpakai kemudian dengan menerapkan apa yang dipelajari dari teori-teori di sekolah mereka mengubah alat-alat rusak tadi menjadi alat baru yang dapat digunakan.

Yang menjadi pertanyaan sekarang bagaimana menerapkan lima domain ini di sekolah? Penerapan lima domain ini sangat tergantung dari niat dan keinginan guru untuk melaksanakannya, Karena belum ada aturan yang “memerintahkan” untuk melaksanakan 5 domain ini secara tertulis, akan tetapi mengingat begitu urgentnya lima domain ini terhadap pembelajaran sains maka usaha untuk menerapkanya mutlak diperlukan. Hanya kesadaran guru yang ingin membuat pembelajaran sains menjadi pembelajaran sains yang bermaknalah yang dapat membuat lima domain ini terlaksana. Karena diakui atau tidak, memerlukan kerja ekstra agar lima domain ini dapat terlaksana. Jika kita bercermin akan peraturan yang ada (yang sudah disahkan) masih banyak yang tidak dilaksanakan, maka hanya guru yang mempunyai jiwa guru sajalah yang mampu melaksanakan lima domain ini. Yang jelas sebagai guru yang baik kita harus selalu berusaha agar pembelajaran yang kita laksanakan menjadi bermakna sehingga siswa dapat memahami pelajaran yang kita sampaikan secara holistik (utuh) tidak setengah-setengah bahkan diharapkan siswa mampu mengaplikasikan ilmu yang didapatnya dalam kehidupan sehari-hari tanpa meninggalkan nilai moral dan tanggung jawab terhadap penerapan ilmu tersebut. Semoga!

Muhammad Syamsuri, S.Pd
Guru SMPN 4 Kintap


Tidak ada komentar: