Sabtu, 04 Februari 2012

Mengintip pelaksanaan IPA Terpadu dan Pendidikan Karakter


 
Recently dunia pendidikan kita seolah-olah terperangah dengan kebijakan-kebijakan “baru” yang dikeluarkan pemerintah. Diawali dengan kebijakan mengenai IPA Terpadu untuk SMP/MTs, dan yang paling baru mengenai pendidikan berbasis karakater. Menarik menyikapi hal ini karena menimbulkan pertanyaan apakah kebijakan ini akan menjadi momentum bagi kebangkitan dunia pendidikan kita, atau hanya akan menjadi sebuah kebijakan yang tampak megah tetapi keropos didalamnya.

Berdasar Permendiknas No. 22 tahun 2006, lingkup IPA di tingkat SMP/MTs meliputi bidang kajian energi dan perubahan­nya, bumi antariksa, makhluk hidup dan proses kehidupan, serta materi dan sifatnya yang dibelajarkan dalam satu mata pelajaran IPA. Hal ini menyebabkan kajian IPA tersebut harus dikemas menjadi satu kesatuan yang utuh. Pelaksanaan pembelajaran IPA juga harus memberi penekanan pada pembelajaran salingtemas (sains, lingkungan, tekno­logi, dan masyarakat). Oleh karena itu mata pelajaran IPA harus disajikan melalui pembelajaran IPA terpadu. IPA terpadu adalah sebuah pendekatan integratif yang mensintesis perspektif (sudut pandang/tinjauan) semua bidang kajian untuk memecahkan permasalahan. Dengan pembelajaran terpadu, siswa diharap­kan mempunyai penge­tahu­an IPA yang utuh (holistik) untuk menghadapi perma­salahan kehidupan sehari-hari secara kontekstual. Yang menjadi pertanyaan, apakah saat ini guru IPA telah melaksanakan pembelajaran IPA Terpadu di sekolah? Atau hanya sekedar kebijakan penuh harapan tanpa ada usaha merealisasikannya.

Pada dasarnya pembelajaran IPA terpadu bukanlah hal yang baru, karena sebagian dari guru-guru IPA telah menerapkan pembelajaran tersebut walau tidak menyadarinya, misalnya mengaitkan satu konsep dalam biologi dengan konsep lain yang relevan dalam fisika atau kimia dan sebaliknya. Akan tetapi, secara umum guru IPA belum memahami atau melaksanakan pembelajaran tersebut secara benar dan sistematis. Karena itu, wajar bila pembelajaran IPA terpadu dianggap sebagai model pembelajaran yang baru bagi guru-guru IPA. Apalagi sebagian besar guru IPA di SMP/MTs memiliki latar belakang keilmuan yang spesifik, misalnya pendidikan fisika, kimia, atau biologi yang menyebabkan guru kesulitan dalam mengaitkan dengan benar antar bidang kajian IPA, belum lagi dengan model perangkat pembelajaran yang tidak sama dengan perangkat pembelajaran pada umumnya karena pada perangkat pembelajaran IPA Terpadu kita harus pandai dan cermat dalam mengaitkan antar kompetensi dasar yang satu dengan yang lain sehingga menjadi suatu kajian pembelajaran yang saling terkait. Hal ini membuat kebanyakan guru mengambil langkah “aman” dengan mengajarkan IPA sesuai dengan apa yang dia bisa. Padahal jika guru mengetahui beberapa tipe pembelajaran yang dianjurkan dalam membelajarkan IPA Terpadu (Connected, integrated dan webbed) maka pembelajaran IPA Terpadu akan lebih mudah dalam pelaksanaannya. Melihat dari permasalahan tersebut, tidak ada cara lain untuk menerapkan pembelajaran IPA Terpadu selain dengan memberikan pelatihan kepada guru IPA tentang bagaimana cara-cara tepat dan efektif dalam melaksanakan pembelajaran IPA Terpadu, itupun jika benar bahwa pembelajaran IPA Terpadu ingin terlaksana.

Keterperangahan selanjutnya dalam dunia pendidikan adalah mengenai pendidikan berbasis karakter. Dimana seolah-olah pendidikan berbasis karakter ini adalah sesuatu yang “wah”. Padahal jika kita cermati dengan sungguh-sungguh, pendidikan ini telah kita ajarkan kepada siswa sejak lama, hanya saja pelaksanaannya tidak terencana dan termuat secara sistematis didalam perangkat pembelajaran. 

Penerapan pendidikan berbasis karakter ini bertolak dari kesadaran bahwa pembentukan karakter menjadi sangat penting bagi generasi kita untuk menghadapi tantangan regional dan global dimana generasi muda kita tidak sekedar memiliki kemampuan kognitif saja, tapi aspek afektif dan moralitas juga tersentuh. Mengacu pada Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3 menyebutkan “Pendidikan  nasional berfungsi  mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab”. Tujuan pendidikan nasional tersebut menyiratkan bahwa melalui pendidikan dapat mendorong generasi penerus bangsa yang memiliki kepribadian jujur, cerdas, tangguh, dan peduli. 

Untuk itu, pendidikan karakter diperlukan untuk mencapai manusia yang memiliki integritas nilai-nilai moral sehingga anak menjadi hormat sesama, jujur dan peduli dengan lingkungan. Yang terjadi saat ini bahwa pendidikan karakter sepertinya  belum terkelola secara baik dan sistemik sehingga sangat diperlukan upaya untuk mengembangkannya, mengingat sangat sentralnya kedudukan karakter dalam membangun kepribadian bangsa saat ini. Salah satu upaya untuk mengimplementasikan pendidikan karakter adalah melalui Pendekatan Holistik, yaitu mengintegrasikan perkembangan karakter ke dalam setiap aspek kehidupan sekolah.

Mengacu pada konsep pendekatan holistik tersebut, kita perlu meyakini bahwa proses pendidikan karakter harus dilakukan secara berkelanjutan sehingga nilai-nilai moral yang telah tertanam dalam pribadi anak tidak hanya sampai pada tingkatan sekolah saja tetapi dapat diterapkan di lingkungan keluarga, masyarakat dan selanjutnya menjadi pondasi yang kuat untuk membangun karakter bangsa dan negara. Guru sebagai ujung tombak pelaksanaan pendidikan berbasis karakter harus mau dan ikhlas dalam membuat perangkat pembelajaran yang memasukkan unsur karakter kepada siswa,   sehingga cita-cita besar menjadikan warga negara yang berkarakter dapat tercapai.

Muhammad Syamsuri, S.Pd
Guru SMPN 4 Kintap

Tidak ada komentar: